Kamis, 02 Desember 2010

Jangan bersedih...

Ketika hati merasa sendiri diantara keramaian..
Ketika jiwa merasa sepi akan kebahagiaan..
Ketika kaki melangkah tak tentu arah kemana tujuan..

Aku tak tau apa yang terjadi dengan hatimu..
Aku terlalu takut untuk bertindak menjadi seorang pahlawan bagimu..
Bukan karena pengecut, karena ku tahu bahwa saat ini yang kau butuhkan hanya sebuah ketenangan..
Namun cuma satu yang terfikir ketika melihatmu bersedih..
Hanya membuatmu tersenyum akan sebuah harapan bahagia..

Jangan bersedih
Selalu ada kebahagiaan untukmu..
Jangan pernah berfikir kalau kau hanya sendiri..
Karena aku ada selalu untukmu..

Senin, 22 November 2010

Bai Fang Li, Tukang Becak Yang Menyumbang Semua Hasil Jerih Payahnya Pada Yayasan Yatim Piatu



Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.





Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Tersentuh

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.


Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.


Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Tak Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.




Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.




Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5523729
http://menujuhijau.blogspot.com/

Kamis, 18 November 2010

hati seluas telaga..


Sesuatu yang dapat mudah kita resapi namun sangat sulit untuk kita lakukan.. yap benar,, itu lah LAPANG DADA atau biasa kita sebut kesabaran

Orang –orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali-Imron:134)

Dari ayat tersebut dapat kita resapi bahwa orang yang dapat Manahan amarah dan melapangkan dadanya merupakan orang yang disukai oleh Allah SWT.
Dengan berlapang dada seseorang dapat lebih mengerti dengan apa yang diderita saudaranya sehingga akan muncul sikap itsar atau mengutamakan saudara, sungguh ini adalah tingkat keimanan yang tinggi ketika disaat yang paling sulit untuk kita, kita dapat mengutamakan saudara kita dengan melepaskan segala apa yang kita sukai.
Ada suatu kisah cerita yang mungkin akan menggugah kita betapa hebatnya sikap berlapang dada..

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “coba, minum ini, dan katakana bagaimana rasanya”, ujar Pak Tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, Jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selsesai meneguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana Rasanya”?
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu mengajaknya duduk berhadapan bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari persaan tempat kita meletakkan segalanya, itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. “Lapangkanlah dadamu” menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Dari cerita di atas dapat kita ambil Ibroh nya bahwa hati adalah sebuah wadah dimana perasaan kita adalah tempat itu, dan kalbu adalah tempat menampung segalanya. Jadi janganlah hati ini kita jadikan seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan, dan cobaan hidup dan merubahnya menjadi kesegaran serta kebahagiaan.

InsyaAllah hanya itu yang dapat saya sampaikan apa bila ada kesalahan sesungguhnya itu benar-benar dari saya apabila benar itu semata-mata hanya dari Allah SWT.
Whallahualam bis Showab...

keep Optimis Brooo...!!!


Optimis.. satu kata yang mempunyai arti besar dalam proses pendewasaan. Rasa optimis timbul ketika manusia mempunyai alasan meyakini sesuatu secara positif terhadap suatu masalah yang akan dihadapi. Suatu kesuksesan tidak lepas dari rasa optimisme karena kesuksesan adalah jalan hidup yang harus dipilih, dan optimisme adalah tiap langkah yang kita jalani dalam pencapaian kesuksesan itu.

Tidak dipungkiri manusia lebih memiliki sifat pesimis dibanding dengan optimis. Kegagalan akan selalu mengikuti manusia yang hidupnya dipenuhi rasa pesimistis. Yang artinya ketika suatu kesempatan untuk meraih kesuksesan datang padanya, secara tidak sadar dia akan selalu ragu dan mencoba mencari cari alasan untuk menggagalkan pencapaian tersebut, itu lah yang disebut pesimis.

Aku membuat tulisan tentang rasa optimis dan pesimis ini adalah bertujuan untuk menguatkanku atau mungkin teman2 sekalian akan keinginan dan tujuan yang kan kita raih. Mulanya rasa optimis begitu besarnya namun seiring dengan berjalannya waktu dengan tanpa usaha nyata untuk mewujudkan tujuan tersebut maka semakin terkikislah rasa optimis itu, dan kini yang tersisa hanya rasa pesimis.

Mari bangkitkan rasa optimis kita, tidak ada gunanya terlalu memikirkan sesuatu yang belum kan terjadi. Ingat apa yang kita rasakan dalam hati dan pikiran merupakan doa yang sebenarnya akan kembali ke diri kita, maka bepikirlah secara positif yakinlah masa depan hanya Allah lah yang tau dan Allah tau yang terbaik untuk kita. Sebagai manusia kita hanya dapat melakukan yang terbaik. Selagi kita masih memiliki mimpi dan Allah, maka yakinlah harapan itu kan selalu ada.

Rabu, 17 November 2010

untuk ayah ..

Sekali lagi aku menangis..
Ketika raga kini terpisah oleh jarak..
Ketika pengabdian belum berarti..
Hanya sesal yang ku dapati..
Maafkan aku Ayah..

Sekali lagi aku menangis..
Tentang semua sikap yang slama ini menyiakanmu..
Membuatmu bersedih dan merasa sendiri..
Sungguh itulah dosa yang nyata untuk ku..
Maafkan aku Ayah..

Sekali lagi aku menangis..
Kini tak pernah tenang hati, ketika raga dan jiwa ini mengingat kesakitanmu..
Hanya doa di setiap akhir sujudku yang berharap dapat meredakan deritamu..
Hanya itu yang mampu aku berikan sebagai wujud tanda pengabdianku padamu..
Maafkan aku Ayah…

Minggu, 14 November 2010

penampilan itu penting lho..!!


”Sebagai manusia kita jangan hanya menilai seseorang dari luarnya saja”, itu lah kata kata yang sering ku dengar entah dari siapa? Yah terkadang itu benar namun ko’ aku merasa kurang sependapat ya? Menurutku penampilan adalah sesuatu yang penting namun kita lihat untuk apa penampilan itu harus disesuaikan. Aku teringat saat malam minggu kemarin, saat itu aku melewati daerah siring banjarmasin. Sangat excited banyak banget anak2 muda disana, mungkin dah sesuatu yang biasa ketika malam minggu banyak anak2 muda yang berkumpul atau sekedar jalan2 disekitar daerah tersebut, tp kali ini berbeda dengan malam2 biasanya. Ternyata mereka semua sedang sibuk melakukan kegiatan kemanusiaan dengan mengumpulkan sumbangan sukarela pada pengguna jalan yang melintas di persimpangan lampu merah. Sekali lagi setelah kuperhatikan dengan seksama mereka adalah mahasiswa, entah dari mana? hanya almamaternya saja yang menunjukan mereka seorang mahasiswa. Wow! Sungguh luar biasa disaat mereka bisa bersantai, mereka dengan suka rela meninggalkan kesenangan itu dengan turun ke jalan untuk mengumpukan sepeser demi sepeser uang demi kemanusiaan, pokoknya kagum deh. 

Nah setelah melewati daerah siring aku berbelok untuk menuju kosanku. saat diperbelokan eh.. maksudnya belokan ternyata banyak juga anak anak muda yang sedang sibuk mengumpulkan sumbangan. Wah sekilas terkagum namun setelah itu ko’ aneh ya aku melihat penampilan mereka? Ini berbeda dari yang sebelumnya, penampilan mereka terlihat seperti ingin jalan jalan ke mall saja? Kalu dibandingkan dengan yang sebelumnya kontras perbedaannya jauh banget. Mungkin itu yang menyebabkan banyak orang yang melintas terlihat kurang respek dengan aksi mereka.


Kesimpulannya terkadang kita harus melihat penampilan kita sebelum melakukan sesuatu. Jangan terlalu malas untuk mengatur penampilan karena itu sesuatu yang penting. Sadar atau tidak sadar seseorang menilai kita disaat pertama kenal, adalah melalui penampilan kita. Contohnya pada saat penerimaan pegawai, sang penguji atau user akan lebih melihat pertama kali dari kita adalah penampilan, jika masalah ini kita perhatikan maka sangat besar kemungkinan akan lulus, namun jika kita mengabaikan ini, sampai kapanpun kesempatan kita untuk tembus ke tingkat selanjutnya di perusahaan manapun sepertinya akan mustahil. Yang perlu digaris bawahi kita berpenampilan yang berbeda dari diri kita, bukan berarti itu bukan diri kita, namun terkadang kita harus bisa bersikap profesional dalam mengatur penampilan, karena penampilan adalah cermin kepribadian.

Sabtu, 13 November 2010

yang kerja n kuliah semangat yoooo!!!

Kerja dan kuliah, kadang terdengar menjadi sesuatu yang sangat memberatkan. Namun ketika di jalankan sesuatu yang kita anggap semula mustahil ternyata dapat mudah kita lalui. Jangan jadikan kuliah suatu beban namun jadikanlah itu suatu hiburan setelah rutinitas kerja dikantor karena disana kita akan melihat dunia yang berbeda karena pastinya lebih segar dan menyenangkan, sehingga dalam menjalaninya kita akan lebih menikmatinya namun tentu dengan rasa tanggung jawab dengan tidak melupakan tujuan kita dalam belajar. Mahasiswa yang bekerja sudah pasti konsentrasinya terpecah akan urusan kantor dan kuliah sehingga akan terkesan bermalas-malasan namun jangan salah terkadang golongan mahasiswa yang bekerja mempunyai sikap yang lebih kritis dan lebih rajin dibandingkan mahasiswa biasa lainnya. jadi ini bukanlah suatu alasan bagi kita mahasiswa yang juga bekerja sebagai ajang untuk bermalas-malasan dalam kuliah, karena semua kembali kepada kita dalam menyikapinya.

Banyak peristiwa yang dapat diambil ketika kita melakukan dua kegiatan yang membutuhkan tanggung jawab secara moril. saat kerja kita mempunyai tanggung jawab terhadap perusahaan namun pada saat kuliah kita mempunyai tanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Mana yang lebih penting? Tentu saja itu bukannlah pertanyaan yang tepat? Karena keduanya mempunyai porsinya masing masing. Namun ketika keduanya berbenturan apa yang seharusnya kita lakukan? Mengorbankan salah satunya? Sulit untuk memutuskan namun segeralah mencari solusinya, gunakan system prioritas sehingga kau akan tau mana yang menurutmu lebih penting dan lebih mendesak saat itu, maka dahulukanlah. Namun bagaimana bila keduanya sangat mendesak? Suatu saat pasti kita mengalami kondisi dimana kita merasa serba salah untuk melakukan sesuatu, namun yang perlu kita ingat kita mempunyai Allah yang maha kuasa. Berdoalah kepadanya dan segeralah ambil keputusan yang menurutmu tepat dan mengawalinya dengan Basmallah smoga dimudahkan. ^^