Kamis, 18 November 2010

hati seluas telaga..


Sesuatu yang dapat mudah kita resapi namun sangat sulit untuk kita lakukan.. yap benar,, itu lah LAPANG DADA atau biasa kita sebut kesabaran

Orang –orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali-Imron:134)

Dari ayat tersebut dapat kita resapi bahwa orang yang dapat Manahan amarah dan melapangkan dadanya merupakan orang yang disukai oleh Allah SWT.
Dengan berlapang dada seseorang dapat lebih mengerti dengan apa yang diderita saudaranya sehingga akan muncul sikap itsar atau mengutamakan saudara, sungguh ini adalah tingkat keimanan yang tinggi ketika disaat yang paling sulit untuk kita, kita dapat mengutamakan saudara kita dengan melepaskan segala apa yang kita sukai.
Ada suatu kisah cerita yang mungkin akan menggugah kita betapa hebatnya sikap berlapang dada..

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “coba, minum ini, dan katakana bagaimana rasanya”, ujar Pak Tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, Jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selsesai meneguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana Rasanya”?
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu mengajaknya duduk berhadapan bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari persaan tempat kita meletakkan segalanya, itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. “Lapangkanlah dadamu” menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Dari cerita di atas dapat kita ambil Ibroh nya bahwa hati adalah sebuah wadah dimana perasaan kita adalah tempat itu, dan kalbu adalah tempat menampung segalanya. Jadi janganlah hati ini kita jadikan seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan, dan cobaan hidup dan merubahnya menjadi kesegaran serta kebahagiaan.

InsyaAllah hanya itu yang dapat saya sampaikan apa bila ada kesalahan sesungguhnya itu benar-benar dari saya apabila benar itu semata-mata hanya dari Allah SWT.
Whallahualam bis Showab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar